Gambaran Status Karies Gigi dan Kebutuhan Perawatan Karies Gigi pada Siswa Berkebutuhan Khusus di SLB D YPAC Bali
Abstract
Background: Children with special needs (CSN) are individuals who have physical, cognitive, or emotional limitations. They are highly vulnerable to poor oral health due to potential motor, sensory, and intellectual impairments that hinder their ability to maintain oral hygiene. The measurement of dental caries status is conducted using the DMFT index for permanent teeth and the def-t index for deciduous teeth. Required treatments include fillings, root canal therapy, and tooth extractions.
Methods: This descriptive cross-sectional study involved 29 students aged 7 to 20 years with special needs enrolled at SLB D YPAC Bali. Participants included children with physical disabilities, intellectual disabilities, and behavioral-emotional disorders. Caries status was evaluated following WHO standards using DMF-T and def-t indices. Treatment needs were determined based on clinical findings and DMFT index results. Data were analyzed using univariate analysis.
Results: The results of the study indicate that the dental caries status among CSN students at SLB D YPAC Bali is categorized as moderate, with an average DMF-T score of 4.2. Children with physical disabilities had the highest caries score (4.5) and fell into the high category, followed by children with intellectual disabilities (4.2) and emotional disturbances (3.0) in the moderate category. The most needed type of treatment was restorative care, particularly among children with emotional disturbances (100%), followed by those with intellectual disabilities (72.2%) and physical disabilities (80%).
Conclusion: Children with special needs at SLB D YPAC Bali exhibit moderate caries status, with a primary need for restorative care, highlighting the importance of targeted preventive programs and improved oral health education for both children and their caregivers.
Latar Belakang: Anak berkebutuhan khusus (ABK) merupakan individu atau anak yang memiliki keterbatasan fisik, kognitif atau emosional. ABK sangat rentan terhadap kesehatan mulut yang buruk karena potensi gangguan motorik, sensorik, dan intelektual yang menyebabkan mereka memiliki keterbatasan dalam membersihkan mulut. Pengukuran status karies gigi dilakukan dengan menggunakan indeks DMFT untuk gigi permanen dan indeks def-t untuk gigi desidui. Perawatan yang dibutuhkan meliputi tumpatan, perawatan saluran akar, dan pencabutan gigi.
Metode: Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan desain cross sectional. Subjek penelitian adalah 29 siswa ABK yang terdiri dari anak tunadaksa, tunagrahita, dan tunalaras, berusia 7–20 tahun, yang memenuhi kriteria inklusi. Pemeriksaan status karies menggunakan indeks DMF-T dan def-t sesuai panduan WHO. Kebutuhan perawatan ditentukan berdasarkan hasil klinis dan pemeriksaan indeks DMFT. Data dianalisis secara univariat.
Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa status karies gigi pada siswa ABK di SLB D YPAC Bali tergolong sedang dengan skor rata-rata DMF-T 4,2. Anak tunadaksa memiliki skor karies tertinggi (4,5) dan termasuk kategori tinggi, diikuti oleh anak tunagrahita (4,2) dan tunalaras (3,0) dalam kategori sedang. Jenis perawatan yang paling banyak dibutuhkan adalah perawatan restoratif (restorasi), terutama pada anak tunalaras (100%), tunagrahita (72,2%), dan tunadaksa (80%).
Kesimpulan: Status Karies gigi anak berkebutuhan Khusus di SLB D YPAC Bali adalah sedang dengan skor 4,2. Kebutuhan perawatan yang paling banyak dibutuhkan adalah restorasi, menunjukkan perlunya intervensi promotif dan preventif yang terarah serta peningkatan edukasi kesehatan gigi bagi anak dan orang tua.



